INDONESIANAPEDIA

MEMBACA FAKTA, MEMAHAMI DUNIA, MENJAGA ETIKA, MERAWAT PERADABAN

PENILAIAN KPI EKONOMI DAN BISNIS INDONESIA: Perbandingan 8 Presiden Indonesia

PENILAIAN KPI EKONOMI DAN BISNIS INDONESIA: Perbandingan 8 Presiden Indonesia

Kinerja ekonomi seorang presiden tidak cukup diukur dari pertumbuhan PDB. Presiden dapat menghasilkan pertumbuhan tinggi tetapi gagal menciptakan pekerjaan berkualitas, meningkatkan pendapatan masyarakat, memperluas kelas menengah, atau mengurangi konsentrasi kekayaan. Karena itu, KPI ekonomi dan bisnis dalam penelitian ini menggunakan 10 indikator utama.

KPI ekonomi dan bisnis

No Indikator KPI Bobot
1 Pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makro 15%
2 Pengendalian inflasi dan stabilitas harga 10%
3 Penurunan kemiskinan 10%
4 Pemerataan dan ketimpangan 10%
5 Lapangan kerja dan pengangguran 10%
6 Upah, daya beli dan kesejahteraan pekerja 10%
7 Investasi dan perkembangan dunia usaha 10%
8 Industrialisasi, produktivitas dan ekspor 10%
9 Infrastruktur dan kualitas layanan ekonomi 7,5%
10 Fiskal, tata kelola dan keberlanjutan ekonomi 7,5%
TOTAL 100%
  • Skor setiap indikator menggunakan skala 1 sampai 10.
  • Skor 1 berarti sangat lemah.
  • Skor 5 berarti sedang.
  • Skor 10 berarti sangat kuat.
  • Hasil penilaian
Presiden Makro Inflasi Kemiskinan Pemerataan Kerja Upah & daya beli Bisnis & investasi Industri Infrastruktur Fiskal & tata kelola SKOR /10
Soekarno 3 2 4 5 4 4 4 5 5 2 3,8
Soeharto 9 8 9 6 8 8 8 7 9 5 7,7
B.J. Habibie 5 4 5 5 5 5 6 6 5 6 5,1
Abdurrahman Wahid 5 6 5 6 5 5 5 5 5 5 5,2
Megawati 7 8 7 6 6 6 7 6 6 7 6,7
SBY 8 8 8 8 8 7 8 7 8 8 7,8
Jokowi 8 7 8 7 7 6 9 9 10 7 7,8
Prabowo* 8 7 8 8 6 6 9 9 8 6 7,4
  • *Penilaian Prabowo merupakan penilaian sementara sampai 2026 dan belum dapat dibandingkan secara final dengan presiden yang telah menyelesaikan masa jabatan.
  • Peringkat KPI ekonomi dan bisnis
Peringkat Presiden Skor Penilaian umum
1 SBY 7,8 Stabilitas makro, penurunan kemiskinan dan iklim bisnis kuat
2 Jokowi 7,8 Infrastruktur, investasi dan hilirisasi sangat kuat
3 Soeharto 7,7 Stabilitas, pembangunan dan penurunan kemiskinan sangat kuat, tetapi tata kelola dan konsentrasi ekonomi menjadi kelemahan
4 Prabowo 7,4 Investasi, hilirisasi dan agenda pangan kuat, tetapi kualitas pekerjaan dan fiskal masih menjadi tantangan
5 Megawati 6,7 Pemulihan dan stabilisasi ekonomi kuat setelah krisis
6 Gus Dur 5,2 Reformasi kuat tetapi masa pemerintahan singkat dan stabilitas ekonomi-politik terbatas
7 Habibie 5,1 Berhasil menangani fase transisi dan pemulihan krisis, tetapi masa pemerintahan sangat singkat
8 Soekarno 3,8 Nasionalisme ekonomi kuat tetapi stabilitas makro dan inflasi menjadi kelemahan besar

ANALISIS PER PRESIDEN

Soekarno

  • Kekuatan ekonomi Soekarno berada pada gagasan kemandirian ekonomi, nasionalisasi perusahaan asing dan pembangunan ekonomi yang berorientasi pada kedaulatan nasional.
  • Namun, periode akhir pemerintahan mengalami masalah ekonomi yang sangat berat. Inflasi sangat tinggi, defisit dan masalah neraca pembayaran memburuk, sementara kapasitas produksi tidak mampu mengimbangi kebutuhan ekonomi.
  • Karena itu, Soekarno mendapatkan nilai tinggi pada nasionalisme ekonomi tetapi rendah pada stabilitas makro.
  • Pesan penting:
  • Kedaulatan ekonomi tanpa stabilitas harga dan produktivitas dapat menghasilkan tekanan ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat.

Soeharto

  • Soeharto memperoleh salah satu skor ekonomi tertinggi.
  • Pemerintahannya berhasil menciptakan stabilitas makro, pembangunan infrastruktur, Revolusi Hijau, ekspansi pendidikan dan penurunan kemiskinan dalam jangka panjang.
  • Indonesia mengalami transformasi dari ekonomi yang sangat miskin menjadi negara berpendapatan menengah.
  • Namun, terdapat kelemahan besar pada tata kelola.
  • Hubungan erat antara negara, keluarga penguasa dan kelompok bisnis menciptakan konsentrasi kekayaan dan peluang ekonomi.
  • Krisis Asia 1997–1998 kemudian memperlihatkan kelemahan sistem tersebut.
  • Pesan penting:
  • Stabilitas dan pembangunan dapat sangat berhasil, tetapi tanpa tata kelola yang sehat, konsentrasi kekuasaan ekonomi dapat menjadi risiko sistemik.

B.J. Habibie

  • Habibie memimpin pada masa yang sangat pendek dan sangat sulit.
  • Tantangan utamanya bukan membangun ekonomi dari kondisi normal, tetapi menyelamatkan Indonesia dari krisis finansial Asia.
  • Prioritasnya adalah stabilisasi rupiah, restrukturisasi perbankan, pemulihan ekonomi dan reformasi kelembagaan.
  • Karena masa jabatan hanya sekitar 17 bulan, indikator pembangunan jangka panjang belum dapat digunakan secara adil untuk menilai kinerjanya.
  • Pesan penting:
  • Presiden pada masa krisis harus dinilai terutama berdasarkan kemampuan melakukan stabilisasi dan membangun fondasi pemulihan.

Abdurrahman Wahid

  • Gus Dur menempatkan demokratisasi, pluralisme dan reformasi kelembagaan sebagai agenda penting.
  • Namun, ketidakstabilan politik membuat konsolidasi ekonomi tidak berjalan sekuat periode SBY atau Jokowi.
  • Kinerja ekonominya lebih tepat dinilai sebagai periode transisi reformasi daripada periode transformasi ekonomi jangka panjang.
  • Pesan penting:
  • Reformasi politik yang kuat perlu berjalan bersama stabilitas kebijakan ekonomi agar dunia usaha memperoleh kepastian.

Megawati

  • Megawati memimpin fase konsolidasi setelah krisis 1997–1998.
  • Stabilitas makro meningkat, inflasi lebih terkendali dan ekonomi kembali tumbuh.
  • Kondisi ini menjadi fondasi penting bagi pemerintahan berikutnya.
  • Privatisasi, restrukturisasi korporasi dan reformasi sektor keuangan juga menjadi bagian dari konsolidasi ekonomi.
  • Pesan penting:
  • Keberhasilan ekonomi tidak selalu berupa pembangunan fisik besar. Stabilitas setelah krisis merupakan modal penting bagi pertumbuhan berikutnya.

SBY

  • SBY memperoleh skor tertinggi dalam model ini bersama Jokowi.
  • Pada era SBY, Indonesia menikmati kombinasi pertumbuhan sekitar 6 persen pada sebagian besar periode, stabilitas makro, peningkatan investasi dan penurunan kemiskinan.
  • Pemerintah juga memperluas program perlindungan sosial dan menjaga stabilitas fiskal.
  • Kelemahannya adalah transformasi struktural belum cukup cepat.
  • Indonesia tetap sangat bergantung pada komoditas dan belum sepenuhnya berhasil membangun industri berproduktivitas tinggi.
  • Pesan penting:
  • Pertumbuhan yang stabil dan institusi makro yang kuat menciptakan lingkungan bisnis yang baik, tetapi Indonesia membutuhkan industrialisasi yang lebih dalam.

Jokowi

  • Jokowi memiliki kekuatan paling besar pada pembangunan fisik.
  • Jalan tol, pelabuhan, bandara, bendungan, kawasan industri, pembangunan desa dan konektivitas menjadi ciri utama pemerintahannya.
  • Hilirisasi juga menjadi kebijakan ekonomi paling penting.
  • Indonesia bergerak dari eksportir bahan mentah menuju pengolahan mineral, terutama nikel.
  • World Bank mencatat bahwa Indonesia telah naik menjadi negara berpendapatan menengah atas sejak 2023. Dari 2000 sampai 2024, pengangguran turun dari sekitar 9 persen menjadi sekitar 5 persen dan kemiskinan dari sekitar 19 persen menjadi sekitar 9 persen.
  • Namun, persoalan produktivitas dan kualitas pekerjaan masih besar.
  • World Bank menilai pertumbuhan Indonesia harus menjadi lebih produktif dan menciptakan lebih banyak pekerjaan berkualitas.
  • Pesan penting:
    • Jokowi sangat kuat dalam membangun kapasitas fisik ekonomi, tetapi tantangan berikutnya adalah mengubah infrastruktur dan hilirisasi menjadi produktivitas, teknologi dan pekerjaan berupah tinggi.

Prabowo

  • Prabowo meneruskan beberapa fondasi Jokowi tetapi memperbesar peran negara dalam perekonomian.
  • Prioritas utamanya adalah:
    • swasembada pangan,
    • swasembada energi,
    • hilirisasi,
    • industrialisasi,
    • Makan Bergizi Gratis,
    • penguatan BUMN,
    • Danantara,
    • investasi,
    • dan pembangunan manusia.
  • Ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen pada 2025, meningkat dari 5,03 persen pada 2024. PDB nominal 2025 mencapai Rp23.821,1 triliun dan PDB per kapita Rp83,7 juta.
  • Kemiskinan Maret 2026 turun menjadi 8,07 persen dengan 22,93 juta penduduk miskin.
  • Gini ratio Maret 2026 turun menjadi 0,368. Proporsi pengeluaran 40 persen penduduk terbawah mencapai 19,22 persen.
  • Ini merupakan indikator positif.
  • Namun, tantangan Prabowo adalah kualitas pertumbuhan.
    • IMF menilai ekonomi Indonesia tetap resilien, tetapi produktivitas masih lemah dan kelas menengah menyusut. IMF menekankan perlunya sektor swasta formal yang lebih dinamis dan mampu menciptakan pekerjaan berkualitas.
    • World Bank juga menempatkan produktivitas dan pekerjaan berkualitas sebagai persoalan utama menuju status negara berpendapatan tinggi.
  • Pesan penting:
    • Prabowo tidak cukup hanya meningkatkan investasi. Tantangan sebenarnya adalah mengubah investasi menjadi industri nasional, teknologi, pekerjaan formal dan kenaikan pendapatan masyarakat.

TABEL PERBANDINGAN STRATEGI EKONOMI

Presiden Strategi utama Kekuatan terbesar Kelemahan terbesar
Soekarno Nasionalisme ekonomi Kedaulatan ekonomi Inflasi dan stabilitas makro
Soeharto Stabilitas dan pembangunan Pertumbuhan dan pengentasan kemiskinan Korupsi, kolusi dan konsentrasi ekonomi
Habibie Stabilitas pascakrisis Pemulihan dan reformasi Masa jabatan pendek
Gus Dur Reformasi dan demokratisasi Institusi dan masyarakat sipil Ketidakstabilan politik
Megawati Konsolidasi Stabilitas ekonomi Transformasi struktural terbatas
SBY Stabilitas dan investasi Makroekonomi dan perlindungan sosial Industrialisasi belum cukup dalam
Jokowi Infrastruktur dan hilirisasi Infrastruktur, investasi dan industrialisasi awal Produktivitas dan kualitas pekerjaan
Prabowo Industrialisasi dan negara aktif Investasi, hilirisasi dan agenda pangan Fiskal, produktivitas dan kualitas pekerjaan

TABEL KEKUATAN DAN KELEMAHAN EKONOMI

Presiden Pertumbuhan Rakyat miskin Kelas menengah Dunia usaha Industri Negara Kesimpulan
Soekarno Lemah akhir periode Lemah Lemah Lemah Sedang Sangat kuat Nasionalisme tinggi, ekonomi tidak stabil
Soeharto Sangat kuat Sangat kuat Menguat Sangat kuat Kuat Sangat kuat Pembangunan besar, tata kelola lemah
Habibie Pemulihan Mulai pulih Tertekan Mulai pulih Sedang Sedang Presiden krisis dan transisi
Gus Dur Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Reformasi lebih dominan daripada ekspansi ekonomi
Megawati Kuat Membaik Membaik Membaik Sedang Sedang Konsolidasi ekonomi
SBY Kuat Sangat membaik Menguat Kuat Kuat Sedang Stabil dan relatif inklusif
Jokowi Kuat Membaik Tertekan akhir periode Sangat kuat Sangat kuat Sangat kuat Infrastruktur dan hilirisasi
Prabowo Stabil Membaik Belum pulih Kuat Sangat kuat Sangat kuat Transformasi masih berlangsung

PESAN PENTING PENELITIAN KPI

  • Pertama
    • Tidak ada presiden yang unggul pada semua indikator.
    • Soeharto sangat kuat pada pembangunan dan penurunan kemiskinan tetapi lemah dalam tata kelola.
    • SBY sangat kuat dalam stabilitas makro dan perlindungan sosial tetapi industrialisasi belum cukup dalam.
    • Jokowi sangat kuat dalam infrastruktur dan hilirisasi tetapi kualitas pekerjaan dan kelas menengah menjadi persoalan.
    • Prabowo sangat kuat dalam agenda industrialisasi, pangan dan peran negara, tetapi hasil jangka panjang belum dapat dinilai.
  • Kedua
    • Pertumbuhan ekonomi bukan sama dengan kesejahteraan.
    • World Bank menunjukkan bahwa Indonesia telah mencapai kemajuan besar dalam penurunan kemiskinan sejak 2000, tetapi pekerjaan berkualitas masih menjadi tantangan utama.
  • Ketiga
    • KPI ekonomi terbaik adalah kombinasi:
      • PDB naik
        • kemiskinan turun
      • Gini turun
        • upah riil naik
        • pekerjaan formal naik
        • kelas menengah berkembang
        • produktivitas naik
        • industri nasional berkembang
        • investasi berkualitas meningkat
        • korupsi dan konflik kepentingan terkendali.
  • Keempat
    • Jangan menilai hilirisasi hanya dari nilai investasi.
    • Indikator yang lebih penting adalah:
      • nilai tambah domestik,
      • jumlah pekerjaan formal,
      • upah pekerja,
      • transfer teknologi,
      • penerimaan pajak,
      • kandungan lokal,
      • kepemilikan nasional,
      • produktivitas,
      • dan kesejahteraan masyarakat di wilayah penghasil SDA.
  • Kelima
    • Dalam perspektif jangka panjang, perbedaan terbesar antara presiden bukan sekadar siapa yang menghasilkan pertumbuhan tertinggi.
    • Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Presiden mana yang paling berhasil mengubah pertumbuhan ekonomi menjadi peningkatan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat secara luas?”

PESAN AKHIR

  • Indonesia telah mengalami kemajuan ekonomi yang sangat besar sejak era reformasi.
  • Kemiskinan nasional turun secara drastis dalam jangka panjang. Pengangguran menurun. Indonesia menjadi negara berpendapatan menengah atas. Infrastruktur meningkat. Investasi berkembang. Industri pengolahan semakin besar.
  • Tetapi pekerjaan rumah Indonesia juga semakin jelas.
  • Indonesia harus keluar dari jebakan pertumbuhan sekitar 5 persen.
  • Untuk mencapai Indonesia Emas 2045, pertumbuhan harus menjadi lebih produktif, lebih inklusif dan lebih banyak menciptakan pekerjaan berkualitas.
  • Karena itu, dalam penelitian KPI 8 presiden, indikator paling penting bukan:
  • “Siapa yang paling banyak membangun?”
  • tetapi:
    • “Siapa yang paling berhasil meningkatkan produktivitas?”
    • “Siapa yang paling berhasil meningkatkan pendapatan riil rakyat?”
    • “Siapa yang paling berhasil menciptakan pekerjaan berkualitas?”
    • “Siapa yang paling berhasil memperluas kelas menengah?”
    • “Siapa yang paling berhasil mengubah sumber daya alam menjadi kekayaan nasional yang manfaatnya dirasakan masyarakat luas?”
  • Dengan ukuran tersebut, penelitian KPI ekonomi tidak berubah menjadi penilaian politik, tetapi menjadi evaluasi berbasis hasil.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *