INDONESIANA PEDIA

FAKTA ILMIAH, JAGA MORAL DAN PERADABAN

10 Kerusakan Lingkungan Hidup Terparah dan Terbesar di Indonesia

 

10 Kerusakan Lingkungan Hidup Terparah dan Terbesar di Indonesia: Fakta, Data, Penelitian, dan Ancaman bagi Masa Depan

Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia, tetapi juga menghadapi tekanan lingkungan yang sangat kompleks. Kerusakan hutan, kebakaran gambut, pencemaran sungai, polusi udara, pertambangan, kerusakan mangrove, degradasi terumbu karang, sampah plastik, pencemaran pesisir, serta kehilangan habitat dan biodiversitas telah menimbulkan dampak ekologis, kesehatan, ekonomi, dan sosial yang luas. Kerusakan tersebut tidak berdiri sendiri. Deforestasi dapat meningkatkan risiko kebakaran dan banjir, pertambangan dapat meningkatkan sedimentasi sungai dan pesisir, sedangkan pencemaran sungai akhirnya bermuara ke laut.

Data terbaru menunjukkan bahwa Indonesia masih kehilangan hutan alam dalam skala besar. Forest Watch Indonesia memperkirakan sekitar 777 ribu hektare hutan alam hilang pada periode 2023–2024 berdasarkan analisis mereka. Data Global Forest Watch yang menggunakan metodologi berbeda memperkirakan kehilangan tutupan hutan primer sekitar 258.800 hektare pada 2024. Perbedaan angka tersebut menunjukkan pentingnya memahami definisi dan metode pengukuran sebelum membandingkan data. (FWI)

Kerusakan lingkungan juga menghasilkan konsekuensi langsung terhadap manusia. Penelitian mengenai Jakarta memperkirakan polusi udara berkaitan dengan lebih dari 10.000 kematian dan lebih dari 5.000 rawat inap setiap tahun, dengan estimasi beban ekonomi sekitar US$2,94 miliar per tahun. Di Citarum, penelitian terbaru menemukan kontaminasi sejumlah unsur toksik dan risiko ekologis maupun kesehatan yang memerlukan pengendalian lebih kuat. (PubMed Central (PMC))

Artikel ini membahas sepuluh bentuk kerusakan lingkungan utama berdasarkan bukti ilmiah dan data yang tersedia. Tujuannya bukan sekadar menunjukkan besarnya kerusakan, tetapi menjelaskan hubungan antara aktivitas manusia, kerusakan ekosistem, kesehatan masyarakat, ekonomi, dan masa depan pembangunan Indonesia.

Indonesia memiliki hutan hujan tropis, lahan gambut, mangrove, terumbu karang, padang lamun, sungai, dan ekosistem pesisir yang sangat luas. Kekayaan tersebut merupakan modal ekologis sekaligus modal ekonomi. Namun, pembangunan ekonomi yang tidak selalu memperhitungkan daya dukung lingkungan telah menyebabkan tekanan besar terhadap ekosistem.

Kerusakan lingkungan Indonesia bukan hanya persoalan pohon yang hilang atau sungai yang kotor. Kerusakan ekologis dapat berarti hilangnya cadangan karbon, berkurangnya air bersih, hilangnya ikan, meningkatnya penyakit, rusaknya tanah pertanian, meningkatnya banjir, hilangnya habitat satwa, dan meningkatnya biaya ekonomi masyarakat. Karena itu, kerusakan lingkungan perlu dilihat sebagai persoalan pembangunan nasional.

10 Kerusakan Lingkungan Hidup Terparah dan Terbesar di Indonesia

  • 1. Deforestasi dan Hilangnya Hutan Alam
    • Hilangnya hutan alam merupakan salah satu bentuk kerusakan lingkungan paling besar di Indonesia. Hutan Indonesia merupakan habitat bagi orangutan, harimau Sumatra, badak, gajah, berbagai burung, tumbuhan endemik, serta ribuan organisme lainnya. Hutan juga mengatur siklus air dan menyimpan karbon dalam biomassa dan tanah.
    • Data menunjukkan bahwa angka kehilangan hutan berbeda menurut definisi dan metode pengukuran. Forest Watch Indonesia memperkirakan luas hutan alam Indonesia turun dari sekitar 90,28 juta hektare pada 2023 menjadi 89,51 juta hektare pada 2024, atau kehilangan sekitar 777 ribu hektare. Sementara Global Forest Watch, dengan definisi dan metode yang berbeda, memperkirakan kehilangan hutan primer sekitar 258.800 hektare pada 2024. Perbedaan ini tidak berarti salah satu data otomatis salah. Perbedaan terjadi karena definisi “hutan”, periode pengamatan, resolusi citra, dan metodologi yang digunakan berbeda. (FWI)
    • Penelitian juga menunjukkan bahwa ekspansi perkebunan kelapa sawit dapat berkontribusi terhadap hilangnya biomassa hutan. Studi di Nature Sustainability memperkirakan ekspansi kelapa sawit ke hutan di Indonesia dan Malaysia pada 2001–2015 menyebabkan kehilangan biomassa hutan sekitar 50,2 ± 21,9 Tg karbon per tahun. Tantangannya bukan sekadar menghentikan komoditas, tetapi memastikan produksi berlangsung pada lahan yang sesuai tanpa membuka hutan alam baru. (Nature)
  • 2. Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut
    • Kebakaran hutan dan lahan merupakan salah satu bencana lingkungan paling berulang di Indonesia. Dampaknya tidak hanya terjadi di lokasi kebakaran. Asap dapat menyebar ke wilayah yang sangat luas dan bahkan melintasi batas negara.
    • Lahan gambut mempunyai karakter khusus. Ketika gambut dikeringkan, material organik yang selama ribuan tahun menyimpan karbon menjadi jauh lebih mudah terbakar. Api juga dapat bergerak di bawah permukaan sehingga sulit dipadamkan. Penelitian mengenai kebakaran 2015 menunjukkan bahwa pembakaran gambut menyumbang sekitar 55% emisi CO₂ dari kebakaran dan 71% emisi PM2.5 primer selama September–Oktober 2015 dalam wilayah kajian. (ACP)
    • Dampaknya sangat luas. Asap meningkatkan konsentrasi partikulat halus dan mengganggu aktivitas masyarakat, transportasi, pendidikan, serta kesehatan. Kebakaran juga menghancurkan habitat satwa dan mempercepat degradasi gambut. Karena itu, pencegahan kebakaran tidak cukup dilakukan ketika api sudah muncul. Kuncinya adalah menjaga muka air gambut, mencegah pengeringan, mengendalikan pembukaan lahan, dan memulihkan ekosistem yang telah rusak.
  • 3. Pertambangan dan Degradasi Lingkungan
    • Pertambangan merupakan salah satu tekanan terbesar terhadap ekosistem darat dan pesisir. Kegiatan pertambangan mengubah bentang alam, menghilangkan vegetasi, menghasilkan material buangan, dan dapat meningkatkan sedimentasi serta pencemaran air.
    • Perkembangan pertambangan nikel di Sulawesi memberikan contoh terbaru. Penelitian terhadap 7.721 desa menunjukkan bahwa deforestasi di desa-desa yang berhubungan dengan pertambangan nikel hampir dua kali lipat pada periode 2011–2018. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa meskipun terdapat peningkatan pada sebagian indikator ekonomi dan infrastruktur, kesejahteraan lingkungan mengalami penurunan. (DOI)
    • Persoalannya menjadi lebih kompleks karena nikel merupakan bahan penting bagi berbagai teknologi dan transisi energi. Karena itu, persoalan lingkungan tidak dapat disederhanakan menjadi “tambang selalu buruk”. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana pertambangan dilakukan, di mana lokasinya, bagaimana limbah dikelola, apakah hutan bernilai tinggi dilindungi, bagaimana reklamasi dilakukan, dan siapa yang menanggung biaya ekologis. Penelitian terbaru juga memperingatkan bahwa pertambangan nikel tropis dapat mengancam kawasan prioritas biodiversitas dan ekosistem pesisir melalui sedimentasi dan kontaminasi. (Nature)
  • 4. Pencemaran Sungai dan Kerusakan DAS
    • Sungai merupakan sistem kehidupan. Sungai menyediakan air untuk masyarakat, pertanian, industri, perikanan, dan ekosistem. Ketika sungai tercemar, dampaknya dapat bergerak dari hulu ke hilir dan akhirnya mencapai laut.
    • Citarum merupakan salah satu contoh paling terkenal. Penelitian terbaru di daerah hulu menemukan pencemaran berbagai unsur seperti Cd, Pb, Mn, Fe, Cu, Cr, dan Hg pada air, sedimen, air tanah, dan tanah. Studi tersebut menunjukkan bahwa kualitas air dan air tanah mengalami persoalan pencemaran dan menemukan indikator risiko tertentu yang perlu mendapat perhatian. (PubMed)
    • Pencemaran sungai berasal dari banyak sumber. Industri, rumah tangga, pertanian, peternakan, limpasan perkotaan, serta sampah dapat berkontribusi secara bersamaan. Penelitian Citarum juga menemukan keberadaan residu pestisida piretroid dan menunjukkan adanya risiko ekologis terhadap organisme akuatik. Artinya, pemulihan sungai tidak dapat hanya dilakukan dengan membersihkan sampah di permukaan. Sumber pencemar harus dikendalikan sejak dari hulu. (PubMed)
  • 5. Polusi Udara Perkotaan
    • Polusi udara merupakan bentuk kerusakan lingkungan yang sering tidak terlihat tetapi dampaknya sangat besar terhadap kesehatan.
    • Partikulat halus PM2.5 dan ozon permukaan dapat masuk ke saluran pernapasan dan berhubungan dengan berbagai penyakit. Jakarta menjadi contoh penting karena kepadatan penduduk, kendaraan bermotor, aktivitas industri, konstruksi, pembakaran, dan kondisi meteorologi dapat meningkatkan paparan.
    • Penelitian yang menggabungkan data lokal Jakarta dengan metode comparative risk assessment memperkirakan bahwa polusi udara berkaitan dengan lebih dari 10.000 kematian, lebih dari 5.000 rawat inap akibat penyakit kardiorespirasi, dan lebih dari 7.000 dampak kesehatan pada anak setiap tahun. Penelitian tersebut memperkirakan beban ekonomi sekitar US$2,94 miliar atau sekitar 2,2% PDRB Jakarta pada tahun yang dianalisis. (PubMed Central (PMC))
    • Masalah polusi udara menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan tidak selalu berbentuk kerusakan bentang alam. Udara yang tercemar juga merupakan bentuk degradasi lingkungan. Karena itu, kebijakan lingkungan harus terintegrasi dengan kebijakan kesehatan, transportasi, energi, industri, dan tata ruang.
  • 6. Kerusakan Mangrove
    • Mangrove merupakan benteng alami pesisir. Ekosistem ini menyimpan karbon, menjadi tempat pembesaran ikan, menahan gelombang, mengurangi erosi, dan menyediakan berbagai sumber penghidupan masyarakat.
    • Indonesia memiliki kawasan mangrove yang sangat luas, tetapi sejarah pemanfaatannya juga panjang. Penelitian mengenai perubahan mangrove Indonesia memperkirakan hampir 1 juta hektare mangrove telah hilang sejak 1800. Sekitar 800 ribu hektare kehilangan pada periode tertentu berkaitan dengan pengembangan tambak, terutama antara 1970 dan 2003. (ScienceDirect)
    • Kerusakan mangrove mempunyai efek berantai. Ketika mangrove hilang, pantai menjadi lebih rentan terhadap erosi dan gelombang. Habitat ikan dan biota pesisir berkurang. Karbon yang tersimpan dalam biomassa dan sedimen juga dapat dilepaskan. Karena itu, restorasi mangrove tidak boleh hanya dilakukan melalui penanaman bibit. Hidrologi, pasang surut, kualitas air, tekanan tambak, dan keberlanjutan pengelolaan masyarakat harus diperbaiki.
  • 7. Kerusakan Terumbu Karang
    • Indonesia berada di pusat kawasan Coral Triangle dan memiliki keanekaragaman terumbu karang yang sangat tinggi. Terumbu karang menyediakan habitat bagi ikan, melindungi pantai, dan mendukung pariwisata serta perikanan.
    • Data pemantauan 2019 terhadap 1.153 lokasi terumbu menunjukkan sekitar 33,82% berada dalam kategori buruk dan 37,38% kategori sedang. Hanya sekitar 22,38% berada dalam kategori baik dan 6,42% sangat baik. Dengan demikian, sekitar 71% lokasi yang dipantau berada pada kategori buruk atau sedang menurut klasifikasi tersebut. (ICCTF)
    • Kerusakan terumbu disebabkan oleh kombinasi tekanan lokal dan global. Penangkapan ikan destruktif, pencemaran, sedimentasi, pembangunan pesisir, dan perubahan iklim dapat bekerja secara bersamaan. Pemanasan laut meningkatkan risiko pemutihan karang. Karena itu, perlindungan terumbu tidak cukup dengan transplantasi karang. Pengendalian pencemaran, perlindungan kawasan, pengelolaan perikanan, dan pengurangan tekanan iklim harus berjalan bersama.
  • 8. Pencemaran Plastik dan Sampah Laut
    • Indonesia menghadapi persoalan sampah plastik yang besar karena jumlah penduduk, konsumsi produk sekali pakai, sistem pengumpulan sampah yang belum merata, dan kebocoran sampah dari daratan ke sungai serta laut.
    • Studi yang mengulas pencemaran plastik Indonesia menunjukkan bahwa estimasi Jambeck dan kolega untuk 2010 memperkirakan sekitar 3,22 juta ton sampah plastik Indonesia dikelola secara tidak memadai dan sekitar 0,48–1,29 juta ton berpotensi masuk ke laut setiap tahun. Angka ini merupakan estimasi berbasis data saat itu, bukan pengukuran langsung seluruh sampah laut Indonesia saat ini. (ScienceDirect)
    • Dampaknya bukan hanya sampah yang terlihat di pantai. Plastik dapat terfragmentasi menjadi mikroplastik. Partikel tersebut ditemukan dalam sedimen, air, ikan, dan organisme laut di berbagai lokasi penelitian. Di Teluk Jakarta, penelitian juga menemukan pengayaan logam berat pada sedimen pesisir akibat berbagai sumber antropogenik. Masalah sampah karena itu harus diselesaikan dari hulu melalui pengurangan plastik sekali pakai, pengumpulan, daur ulang, pengelolaan sungai, dan tanggung jawab produsen. (ScienceDirect)
  • 9. Degradasi Pesisir dan Teluk Jakarta
    • Wilayah pesisir Indonesia mengalami tekanan yang sangat kompleks. Kota besar, pelabuhan, industri, permukiman, perikanan, reklamasi, limpasan sungai, dan sampah bertemu dalam ruang yang sama.
    • Teluk Jakarta merupakan contoh penting. Sedimen di kawasan Jakarta dan sungai yang bermuara ke teluk menunjukkan pengayaan sejumlah logam berat yang berasal dari aktivitas manusia. Penelitian menemukan bahwa Zn, Ni, Pb, dan sebagian Cu dipengaruhi sumber antropogenik, sementara pengaruh tersebut berkaitan antara lain dengan kegiatan perkotaan dan industri. Pada lokasi tertentu, konsentrasi logam dapat mencapai tingkat yang berpotensi menimbulkan dampak biologis. (PubMed)
    • Kerusakan pesisir mempunyai konsekuensi ganda. Ekosistem laut mengalami tekanan, sementara masyarakat pesisir kehilangan sebagian fungsi ekologis yang sebelumnya membantu melindungi pantai dan menyediakan sumber pangan. Pencemaran dari daratan juga menunjukkan bahwa masalah laut sebenarnya sering dimulai jauh dari laut. Karena itu, pengelolaan pesisir harus menggunakan pendekatan dari daratan sampai laut, bukan memisahkan keduanya.
  • 10. Kehilangan Biodiversitas dan Habitat Satwa Liar
    • Kerusakan lingkungan pada akhirnya bermuara pada kehilangan biodiversitas. Indonesia mempunyai banyak spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain. Ketika habitatnya hilang, spesies tersebut mempunyai ruang hidup yang semakin sempit.
    • Deforestasi, kebakaran, perkebunan, pertambangan, pembangunan jalan, fragmentasi habitat, perburuan, perdagangan satwa, dan perubahan iklim dapat bekerja secara bersamaan. Dampaknya sangat jelas pada spesies dengan habitat terbatas seperti orangutan, harimau Sumatra, badak Jawa, anoa, tarsius, burung endemik Wallacea, dan berbagai spesies lainnya. Kehilangan hutan bukan hanya mengurangi jumlah pohon, tetapi juga memutus hubungan antarhabitat yang diperlukan untuk reproduksi dan perpindahan satwa.
    • Pertambangan nikel di Sulawesi memberikan contoh bagaimana tekanan ekonomi dapat berinteraksi dengan biodiversitas. Sulawesi merupakan bagian dari Wallacea yang dikenal mempunyai tingkat endemisitas tinggi. Penelitian mengenai pertambangan nikel menunjukkan peningkatan deforestasi di desa-desa pertambangan dan penurunan indikator kesejahteraan lingkungan. Studi yang lebih baru juga menunjukkan bahwa ekspansi nikel di kawasan tropis dapat bersinggungan dengan kawasan prioritas konservasi darat dan laut. (DOI)

Tabel Ringkasan 10 Kerusakan Lingkungan

No Kerusakan Contoh wilayah Dampak utama Indikator penting
1 Deforestasi Sumatra, Kalimantan, Papua, Sulawesi Kehilangan habitat, karbon, air Ratusan ribu ha kehilangan hutan per tahun menurut berbagai metode
2 Kebakaran gambut Sumatra dan Kalimantan Asap, karbon, kesehatan Kebakaran 2015 menghasilkan emisi PM2.5 dan CO₂ sangat besar
3 Pertambangan Sulawesi, Kalimantan, Maluku Deforestasi, sedimentasi, pencemaran Deforestasi di desa pertambangan nikel meningkat tajam
4 Pencemaran sungai Citarum dan sungai perkotaan Air, ikan, kesehatan Logam berat dan pestisida terdeteksi
5 Polusi udara Jakarta dan kota besar Penyakit dan kematian >10.000 kematian/tahun diperkirakan dalam studi Jakarta
6 Kerusakan mangrove Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi Erosi, karbon, perikanan Hampir 1 juta ha kehilangan historis menurut satu kajian
7 Kerusakan terumbu karang Seluruh Indonesia Perikanan, biodiversitas 33,82% buruk dan 37,38% sedang pada data 2019
8 Sampah plastik Sungai, pantai, laut Mikroplastik, satwa, pangan Estimasi lama 0,48–1,29 juta ton/tahun menuju laut
9 Degradasi pesisir Teluk Jakarta dan kota pesisir Sedimen, logam berat, habitat Pengayaan logam berat antropogenik
10 Kehilangan biodiversitas Hutan dan pesisir Kepunahan dan fragmentasi Habitat spesies endemik semakin terfragmentasi
  • Mengapa Kerusakan Lingkungan Terjadi?
    • Kerusakan lingkungan Indonesia mempunyai banyak penyebab.
      1. Pertama, perubahan penggunaan lahan.
        • Hutan dikonversi menjadi perkebunan, pertanian, permukiman, infrastruktur, dan pertambangan.
      2. Kedua, pertumbuhan ekonomi yang tidak selalu memasukkan biaya ekologis.
        • Suatu kegiatan dapat menghasilkan pendapatan dan lapangan kerja, tetapi sebagian biayanya ditanggung masyarakat melalui pencemaran, kehilangan air bersih, banjir, atau kerusakan habitat.
      3. Ketiga, lemahnya pengawasan.
        • Regulasi yang baik tidak cukup jika pelanggaran tidak terdeteksi atau tidak ditindak secara konsisten.
      4. Keempat, tata ruang yang tidak terintegrasi.
        • Daerah hulu, sungai, pesisir, dan laut sebenarnya merupakan satu sistem ekologis.
      5. Kelima, pola konsumsi.
        • Sampah plastik, penggunaan energi fosil, kendaraan pribadi, dan konsumsi sumber daya yang berlebihan meningkatkan tekanan terhadap lingkungan.
  • Pesan Penting untuk Pemerintah
    • Pertama, pemerintah perlu mengubah ukuran keberhasilan pembangunan. Pertumbuhan ekonomi tidak cukup diukur melalui PDB. Kerusakan hutan, kehilangan biodiversitas, pencemaran, dan biaya kesehatan harus masuk dalam perhitungan ekonomi.
    • Kedua, data lingkungan harus transparan. Data tutupan hutan, konsesi, izin tambang, kualitas air, emisi, pencemaran, dan reklamasi perlu dapat diperiksa publik.
    • Ketiga, penegakan hukum lingkungan harus berbasis risiko. Pelanggaran yang mengancam sumber air, kawasan biodiversitas tinggi, pesisir, dan kesehatan masyarakat harus menjadi prioritas.
    • Keempat, pembangunan hilirisasi dan pertambangan harus disertai standar ekologis yang lebih kuat. Studi mengenai nikel menunjukkan bahwa manfaat ekonomi dapat muncul bersamaan dengan penurunan kualitas lingkungan. (DOI)
    • Kelima, rehabilitasi harus berbasis ekosistem. Menanam pohon di lokasi yang salah tidak otomatis mengembalikan hutan. Menanam mangrove tanpa memperbaiki hidrologi juga tidak menjamin keberhasilan.
    • Keenam, pemerintah perlu mengintegrasikan kebijakan lingkungan dan kesehatan. Polusi udara, air, makanan, dan tanah pada akhirnya menjadi masalah kesehatan masyarakat.
  • Pesan Penting untuk Rakyat
    • Masyarakat juga mempunyai peran penting.
    • Sampah yang dibuang ke selokan dapat berakhir di sungai. Sungai dapat membawa sampah ke laut.
    • Pembakaran lahan secara sembarangan dapat menghasilkan asap dan merusak tanah.
    • Penggunaan plastik sekali pakai meningkatkan beban sistem pengelolaan sampah.
    • Konsumsi produk hasil eksploitasi sumber daya juga mempunyai jejak lingkungan.
    • Namun, tanggung jawab tidak boleh seluruhnya dibebankan kepada individu. Pemerintah dan industri mempunyai tanggung jawab yang jauh lebih besar dalam menyediakan sistem pengelolaan sampah, transportasi bersih, energi bersih, pengawasan industri, perlindungan hutan, dan tata ruang yang baik.
    • Masyarakat membutuhkan sistem yang memungkinkan perilaku ramah lingkungan menjadi pilihan yang mudah dan terjangkau.

Prinsip Besar Penyelamatan Lingkungan Indonesia

Masalah Solusi utama
Deforestasi Perlindungan hutan alam dan tata ruang berbasis ekologi
Kebakaran gambut Rewetting, pencegahan, pengawasan dan restorasi
Pertambangan AMDAL kuat, zona larangan, reklamasi dan pengawasan
Sungai tercemar Kendali limbah dari sumbernya
Polusi udara Transportasi publik, energi bersih dan standar emisi
Mangrove Perlindungan dan restorasi hidrologis
Terumbu karang Kawasan konservasi dan pengelolaan perikanan
Plastik Pengurangan, penggunaan ulang, daur ulang dan tanggung jawab produsen
Pesisir Pengelolaan berbasis DAS sampai laut
Biodiversitas Perlindungan habitat dan koridor ekologis

Penutup

  • Indonesia tidak kekurangan sumber daya alam. Indonesia memiliki hutan tropis yang luas, gambut, sungai, pesisir, mangrove, terumbu karang, laut yang sangat luas, serta keanekaragaman hayati yang menjadi salah satu kekayaan ekologis terbesar dunia. Namun, kekayaan tersebut tidak berarti tidak terbatas. Sepuluh bentuk kerusakan lingkungan yang dibahas menunjukkan bahwa persoalan ekologis Indonesia telah bergerak dari sekadar masalah lingkungan menjadi persoalan ekonomi, kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, perubahan iklim, dan masa depan generasi. Hutan yang hilang berarti berkurangnya penyimpan karbon dan pengatur tata air. Gambut yang terbakar menghasilkan polusi udara dan emisi besar. Pertambangan yang tidak terkendali dapat meninggalkan kerusakan pada hutan, sungai dan pesisir. Sungai yang tercemar membawa masalah hingga ke laut. Mangrove dan terumbu karang yang rusak mengurangi perlindungan pantai serta produktivitas perikanan. Sampah plastik yang tidak tertangani kembali kepada manusia melalui ekosistem laut dan rantai makanan. Karena itu, Indonesia tidak boleh lagi melihat kerusakan lingkungan sebagai biaya sampingan pembangunan. Kerusakan lingkungan adalah biaya pembangunan yang pada akhirnya dibayar oleh masyarakat.
  • Tantangan terbesar Indonesia bukan memilih antara pembangunan atau lingkungan, tetapi menentukan pembangunan seperti apa yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya. Pemerintah perlu mengubah paradigma dari eksploitasi sumber daya alam menuju pengelolaan modal alam yang terukur, transparan, berbasis ilmu pengetahuan, dan berorientasi pada keberlanjutan. Setiap izin pembangunan seharusnya tidak hanya menghitung investasi, lapangan kerja dan penerimaan negara, tetapi juga kehilangan hutan, air, biodiversitas, kualitas udara, kesehatan masyarakat, emisi karbon dan biaya pemulihan ekologis. Masyarakat pun memiliki tanggung jawab melalui pola konsumsi, pengelolaan sampah, perlindungan lingkungan lokal dan pengawasan terhadap kebijakan publik. Indonesia tidak sedang memilih antara ekonomi dan lingkungan. Indonesia sedang memilih apakah ekonominya akan dibangun dengan menghabiskan modal alam atau dengan menjaga modal alam tersebut agar terus menghasilkan kesejahteraan. Kekayaan alam yang habis tidak dapat diwariskan kembali. Karena itu, keberhasilan pembangunan Indonesia pada akhirnya bukan hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi hari ini, tetapi dari kemampuan bangsa menjaga agar hutan tetap hidup, sungai tetap bersih, udara tetap sehat, laut tetap produktif dan alam tetap mampu menopang kehidupan manusia puluhan bahkan ratusan tahun ke depan.

Daftar Pustaka Utama

No Referensi Keterangan
1 Kiely L, Spracklen DV, Wiedinmyer C, et al. New estimate of particulate emissions from Indonesian peat fires in 2015. Atmospheric Chemistry and Physics. 2019;19:11105–11121. DOI: 10.5194/acp-19-11105-2019. Penelitian kebakaran gambut dan emisi
2 Astuti RDP, Maria R, Nurohman H, et al. Potentially toxic elements contamination in the water resources: an integrated risk assessment approach in the upper Citarum watershed area. Environmental Geochemistry and Health. 2024;46:77. DOI: 10.1007/s10653-023-01818-y. Penelitian pencemaran Citarum
3 Xu Y, Yu L, Ciais P, et al. Recent expansion of oil palm plantations into carbon-rich forests. Nature Sustainability. 2022;5:574–577. DOI: 10.1038/s41893-022-00872-1. Penelitian ekspansi sawit dan kehilangan biomassa hutan
4 Jambeck JR, Geyer R, Wilcox C, et al. Plastic waste inputs from land into the ocean. Science. 2015;347:768–771. DOI: 10.1126/science.1260352. Penelitian global tentang sampah plastik dari darat ke laut, termasuk Indonesia
  • Catatan metodologis: angka deforestasi, sampah plastik, kebakaran, dan kondisi terumbu karang berasal dari metode dan tahun pengamatan yang berbeda. Karena itu angka tersebut tidak tepat jika dijumlahkan atau dibandingkan secara langsung. Data 2024 FWI dan Global Forest Watch juga menggunakan definisi serta metode yang berbeda. (FWI)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *